Setiap Gunung memiliki karakter dan cerita tersendiri untuk para pendaki.
Bahkan untuk satu tempat yang sama, karakter perjalanannya tak serupa. Itu pasti.
Tergantung kemana dan dengan siapa dirimu pergi.
Suatu tempat yang kurang kita minati, bisa saja menjadi tempat yang penuh makna tuk kita rindui.
Kali ini ingin sharing, salah satu tempat yang penuh makna dan luar biasa tak terlupai.
Kisah ini hanya sekali, namun dirindukan ribuan kali.
Jadi ada empat orang mahasiswa dalam perjalanan ini, yang berani ke Gunung Gede dengan uang pas-pasan, logistik yang tidak lebih dari cukup, dan izin yang masih dalam pengajuan. DAMN. Bisa bayangin kan?
Karena saking asiknya menikmati puncak gunung yang sedang merekah warnanya karna bias matahari, mereka lupa waktu dan terjebak di atas gunung.
Karena saking asiknya menikmati puncak gunung yang sedang merekah warnanya karna bias matahari, mereka lupa waktu dan terjebak di atas gunung.
Mereka nekad. Setelah melakukan perhitungan yang nampaknya jika ditinjau ulang kembali mereka rupanya tak pandai berhitung buuuuuungg, mereka berangkat. Start point motor mereka terdeteksi dari sekitar salah satu Universitas ternama di Jakarta Selatan. Menggunakan dua motor: dua laki-laki dan dua wanita. Wanita dibonceng di belakang, menggendong tas carrier yang cukup mantap bikin punggung berotot. Sekitar satu jam perjalanan,
Ya, pertanda jikalau kami eh maksudnya mereka perlu mengisi perut. Hujan kali itu ditemani dengan nasi uduk, pecel lele, pecel ayam, dan sambal yang maknyus pedasnya. Tak lupa mereka meneguk es teh manis buatan Bapak penjual nasi pinggiran itu.
Singkat cerita, mereka sudah tiba di gubuk milik Ibu-yang namanya belum dapat dikonfirmasi hingga sekarang: untuk menitip motor dan beristirahat, lalu checking up perlengkapan yang dibawa. Seteguk minuman hangat sangat membantu menghangatkan suhu badan kala itu. Untungnya mereka dapat memperhitungkan minuman sachet. Mereka menyeduh sendiri menggunakan kompor yang mereka selipkan di tas nan besar itu. Hawa dingin sudah terasa meski mereka belum memulai perjalanan tersebut. Setelah istirahat dirasa sudah cukup, barang dan pakaian sudah memadai, mereka mulai melangkah............
Dari langkah inilah semua dimulai...........
BLANGG
Mereka tersasar. Masih di pintu masuk dan mereka sudah tersasar. Lucu sekali, dan dirasa sangat bodoh. Memang, saat itu masih sangat gelap, petunjuk jalan tak terlihat, matahari sama sekali belum memperlihatkan dirinya, bahkan ayam saja rasanya masih nikmat-nikmatnya berlalian di alam mimpi. Mereka mulai sadar mereka tersasar ketika dirasa hutannya sangat gelap, tidak terlihat penunjuk jalan, dan mereka melihat ada batas konservasi juga satelit kecil yang sepertinya digunakan untuk penelitian. Mereka tersasar sekitar tiga jam, dan perut mulai berdendang syahduu nan merduu. Kebodohan pertama.
Mereka mulai memasak. Satu laki-laki, sebut saja A naik ke atas untuk lihat kondisi di atas dan memastikan bahwa mereka benar-benar tersasar. Dan ya, mereka memutuskan menyusuri kembali jalan yang tadi dilalui. Ternyata mereka salah di persimpangan, untungnya mereka sangat menjaga ucapan dan perilaku juga sikap. Tak ada kejadian aneh saat mereka tersasar - sepertinya jalan yang mereka lalui ialah jalan menuju Gn. Pangrango via Gn. Putri
Mereka sudah cukup lelah, yang diduga track Gn. Pangrango via Gn. Putri tadi sudah cukup menguras tenaga mereka. Saat sudah di jalan yang tepat dan mantap, mereka memutuskan untuk istirahat mendirikan tenda. Dua tiga saran dari tiap anggota, memutuskan untuk meninggalkan barang-barang mereka dan cukup membawa dua daypack ke atas dan sepakat untuk langsung turun. Istilahnya dikenal tek-tok.
![]() |
| Peta Taman Nasional Gunung Gede Pangrango |
Keputusan mereka tepat, mereka tak membutuhkan waktu lama mendaki ke atas. Hanya membawa dua daypack dan kompor memang sangat membantu gerakan mereka. Sebab, Gunung Gede via Jalur Putri memang jalur yang tidak panjang, namun hampir semua tanjakan cukup berat dan terjal. Jalur ini terbaik setelah jalur Cibodas dan masih lebih baik dibandingkan jalur Salabintana.
Barang penting yang mereka bawa di dalam daypack ialah:
- Logistik, bahan makanan dan bahan minuman
- Jas Hujan masing-masing anggota (sangat penting)
- Uang dan Handphone
- Kompor
- P3K
- Senter
"Dikit lagi yoooook"
"Lima menit lagi puncak geng"
"Puncaknya udah keliatan tuhh!"
"Kalo capek break ya jangan dipaksa"
"Bentar dulu, madu dong"
Itulah kira-kira percakapan yang sangat-sangat memotivasi satu sama lain diantara mereka. Benar-benar jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, kemewahan mall/café, tidak ada media sosial, jaringan internet, dan benar-benar perjalanan yang sangat sederhana. Saat koneksi dengan dunia luar terbatasi, disitulah mereka merasa ada yang lengkap kembali dalam diri mereka.
![]() |
| Satu-satunya Bonus via Gunung Puteri |
![]() |
| Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede |
Hanya terlihat dua rombongan tenda, satu rombongan terdengar sedang beristirahat di dalam tenda dan satu rombongan sedang asik-asiknya dengan jagung bakar mereka. Rombongan terakhir yang kami temui itu ternyata sudah hari ke dua dan berangkat melalui jalur Salabintana. Setelah saling sapa dan bertukar informasi, mereka menuju mata air Gunung Gede untuk mengisi ulang air minum.
Kalo bahasa sekarang Wagelaaaaseh (Amazingly crazy!!) Keren banget..... Pemandangan padang edelweis termegah yang berhektar-hektar di Alun-alun Surya Kencana itu bikin eyegasm banget.... Ga bisa dijelasin deh kenikmatannya. Puji Tuhan banget dikasih kesempatan bisa lihat ini di waktu muda.
![]() |
| Monumen Puncak Gunung Gede 2958 Mdlp |
![]() |
| Puncak Gunung Gede |
Dua tiga tarikan nafas di puncak itu, terasa sangat dalam.. Terasa titik air mata di sudut kanan-kiri mata, bukti rasa bersyukurku untuk segala rasa saat itu.
Aku terdiam.
Ya, aku.
Jas hujan yang kukenakan tak mampu menahan dinginnya hawa di Gunung Gede, hidung ku terasa beku dan memerah namun sempat tak terasa beberapa detik ketika menikmati pemandangan luar biasa tersebut. Aku tidak ingin kamu iri saat membaca perjalanan ini. Aku ingin kamu pun memiliki keberanian dan suatu saat bisa berdiri disini dengan sahabat ataupun keluargamu tanpa mengulangi kesalahan kami.
Puncak saat itu sangat merekah merah, dan gumpalan awan di bawah kakiku begitu menggelitik. Begitu indah dan aku benar-benar dekat dengannya. Seluruh elemen saat itu benar-benar menghipnotis kami. Seharusnya kami sudah turun, namun rasa penasaran dengan perubahan warna kala mentari ingin pulang saat itu menahan diri kami untuk menunda sebentar beberapa menit kepulangan kami. Seharusnya kami mampu menahan diri namun egois pada diri kami untuk menahan waktu sebentar lagi membuat kami kesulitan di perjalanan pulang. Terhentak saat akan berpisah dengan matahari, kami buru-buru mempercepat langkah kami namun kami terlambat. Matahari sudah tak menampakkan dirinya, dan kami kekurangan pencahayaan untuk turun kembali ke tenda kami.
Saat itu ber-embun, tak hujan namun sangat licin jika memaksakan untuk turun. Jelas, akan sangat gelap perjalanan menuju ke bawah pula. Resiko tak kami ambil jadilah kami terperangkap di Gunung Gede tanpa tenda, tanpa baju ganti dan jaket. Embun cukup tebal dan dingin mulai menusuk-nusuk tulang kami, kami mencari dahan-dahan cantigi yang sedikit tinggi tuk jadi atap kami. Kami menemukannya, namun tak cukup untuk melindungi kami berempat hingga pagi nanti.
Untungnya kami memiliki jiwa supel dan banyak ide. Keputusan yang berat saat itu, kami memutuskan untuk say hi dengan rombongan pendaki yang kami dengar sedang tidur di bibir Surya Kencana tadi dan berencana menumpang dalam tenda mereka. Kami benar-benar nekad saat itu, karena kami belum sepenuhnya percaya. Ada rasa takut, namun harus yakin.
Sapaan kami lontarkan ke kerumunan orang yang ada dalam tenda itu, kami menjelaskan keadaan kami dengan hati-hati dan bertanya apakah mereka dapat membantu kami. Sungguh, tak kusangka tanpa berunding mereka dengan kompak langsung mempersilahkan kami masuk ke dalam tenda mereka dan menawarkan makanan dan minuman hangat. Kami berempat saling tatap satu sama lain dan mengucapkan terimakasih kepada mereka. Jujur, tenda mereka jadi sempit karena kami berempat. Namun kami dengan sigap menggantikan koki mereka memasak untuk makan malam. Untungnya kami punya persediaan makanan yang lebih. Sayur sop dan bakwan menjadi menu makan malam kami saat itu dan dinginnya Gunung Gede terselimuti oleh hangatnya percakapan kami berempat dengan group pendaki yang semua anggotanya laki-laki itu.
Kami bisa pulang dan berkesempatan sekali lagi memandang kemegahan padang edelweis pagi itu.
Here, some pictures of orang-orang yang terjebak bersamaku:
Ps. Sampai saat ini kami belum bertemu lagi dengan orang-orang yang menolong kami saat itu. Kami sama sekali tak memiliki kontak mereka. Jika kamu yang sedang membaca ini mengenali wajah kami yang kalian tolong kala itu. Please say hi to us, reach me on my Mail/ Instagram.
We really want to meet you guys 😊
-Gunung Gede Pangrango via Gunung Putri, Circa Late 2016-












