Kepada orang yang sedang patah hati, Papandayan mungkin bisa
menjadi salah satu destinasi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Karena pada
dasarnya orang yang sedang patah hati itu waib untuk menyibukkan diri dan
berlibur ke tempat yang menyenangkan. Karena dengan diam saja di rumah
kemungkinan besar kamu hanya akan menambah beban kamu atau mungkin akan lebih
sering teringat dengan masa lalu-mu dengan si Dia. Oleh karena itu berpergian
dengan model atau tipe yang baru seperti hiking di Papandayan merupakan salah
satu pilihan kegiatan yang tepat untuk menyembuhkan luka yang masih membekas di
hati meski bagiku perjalanan kali ini bukanlah sepenuhnya untuk itu.
Papandayan merupakan sebuah Gunung dengan ketinggian 2662 Mdpl
yang terletak di Garut, Jawa Barat. Akses menuju ke sana tidaklah sulit,
berikut cerita bagaimana perjalananku ke Papandayan dengan tiga orang
temanku. (Hanya saran. Tinggalkan halaman ini, jika ragu untuk meneruskan)
“There is no WIFI here, but I promise you we will find a better connection”
Perjalanan singkat ini bermula dari rasa penasaranku terhadap
tempat ini yang sering kujumpai hanya di media social Instagram. Sempat hanya
menjadi wacana 2 kali di tahun 2015 akhirnya perjalanan ini terjadi di awal
2016 bersama tiga sahabat perjalananku Andrew, Devi dan Dion. Cece temanku,
membatalkan rencana untuk ikut karena suatu hal. Berbekal dengan perlengkapan
pinjam sana sini dan packing yang singkat, kami memulai perjalanan menuju
Papandayan dengan angkutan umum menuju Kp. Rambutan lalu menaiki Bus Primajasa
jurusan Terminal Garut. Sesekali kutengok handphone ada pesan masuk dan beberapa missed call.
"Udh brangkat ka?"
"Hati2 kalian ya ka :("
"Titip adek2 ya, terutama adek pea gua tuh hahaha"
"Hati2 kalian jaga kesehatan ya terutama lu"
"Mau kemana, emang Grace punya gunung? wkwk laaff you noonggg"
Perjalanan dadakan ini kurang lebih memakan waktu 4 jam, kami tiba di terminal sekitar pukul 02.00 pagi selanjutnya kami harus menaiki angkutan ke arah Cikajang dan turun di Pasar Cisurupan. Setelah itu kita menaiki mobil bak/ pick up untuk menuju ke lokasi pendakian pertama yaitu Camp David.
"Udh brangkat ka?"
"Hati2 kalian ya ka :("
"Titip adek2 ya, terutama adek pea gua tuh hahaha"
"Hati2 kalian jaga kesehatan ya terutama lu"
"Mau kemana, emang Grace punya gunung? wkwk laaff you noonggg"
Perjalanan dadakan ini kurang lebih memakan waktu 4 jam, kami tiba di terminal sekitar pukul 02.00 pagi selanjutnya kami harus menaiki angkutan ke arah Cikajang dan turun di Pasar Cisurupan. Setelah itu kita menaiki mobil bak/ pick up untuk menuju ke lokasi pendakian pertama yaitu Camp David.
Setibanya di Camp David, dengan tanpa listrik dan lampu juga
dingin yang sudah mulai menusuk, kami beristirahat tidur sejenak di balai milik
warung kecil sembari menunggu datangnya cahaya matahari untuk memulai
perjalanan kami. Tanpa listrik dan lampu, langit menjadi begitu indah dengan
ribuan bintang yang menyapa dan menemani kami. Sekitar pukul 6 pagi kurang kami
mulai sarapan dan siap-siap. Dingin yang menusuk sampai ke tulang tidak
mematahkan semangat kami untuk melanjutkan perjalanan kami. And the journey
starts here..
| Pemandangan dari Camp David |
![]() |
| Perjalanan mulai berbatu dan menanjak |
Sebelum perjalanan, ada seorang sahabat yang menasihati pula
untuk selalu tetap positive, jangan memaksakan diri, selalu jaga perlengkapan
agar tetap kering dan jangan sampai kelaparan. Ingat di awal kenapa
kumenyarankan perjalanan ini kepada orang yang sedang patah hati? Ya, karena saat
mendaki aku lupa. Lupa bagaimana perasaan yang sakit. Bagaimana tidak, kita diharuskan untuk berfirkir menggunakan logika dari segi
cuaca, perbendaharaan logistik, medan perjalanan, pemilihan jalur dan stamina
diriku & teman-teman. Selain itu mataku disibukkan dan dimanjakkan dengan
keindahan. Di Papandayan, setiap langkah memiliki spot pemandangan berbeda yang
luar biasa.
Satu dua langkah kami lalui, keringat mulai muncul di
permukaan kulit kami. Jalanan yang awalnya datar mulai menanjak dan berbatu. Kalimat "break" mulai terlontar. Mendaki
mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih perasa. Pertanyaan kecil seperti
"cape ga?"
"mau istirahat dulu?"
"berat ga, sini gantian?"
"awas licin kak"
"ayo dikit lagi"
Atau bahkan gurauan kecil yang meledek keluar dari mulut kami mengundang tawa membuat perjalanan ini tidak terasa. Lokasi pertama yang kami temui adalah Kawah Papandayan. Disini kamu akan melihat kawah belerang dengan aroma seperti telur busuk. Dari lokasi ini pun kamu dapat melihat Gunung Cikuray. Langkah kaki kembali kami ukir meninggalkan kawah tersebut meninggalkan awan belerang di belakang, menuju batas selanjutnya.
"cape ga?"
"mau istirahat dulu?"
"berat ga, sini gantian?"
"awas licin kak"
"ayo dikit lagi"
Atau bahkan gurauan kecil yang meledek keluar dari mulut kami mengundang tawa membuat perjalanan ini tidak terasa. Lokasi pertama yang kami temui adalah Kawah Papandayan. Disini kamu akan melihat kawah belerang dengan aroma seperti telur busuk. Dari lokasi ini pun kamu dapat melihat Gunung Cikuray. Langkah kaki kembali kami ukir meninggalkan kawah tersebut meninggalkan awan belerang di belakang, menuju batas selanjutnya.
Kami dihadapkan dengan dua pilihan jalan. Dilema untuk
memutuskan dan tak ada orang lain yang dapat diminta saran. Hanya dengan
keyakinan kami berpegangan. Kami memilih jalan ke kiri yang berbatu dan terjal.
Jalur ini membuat lutut dan wajah kami saling bertemu. Langkah besar dan kekuatan
tangan, kami saling berpegangan saling menjaga satu sama lain. Sempat kami ragu
dengan apa yang telah kami pilih, ingin kembali namun kami sudah terlalu jauh. Jika
kembali melalui jalur ini dengan turunan tajam kami berfikir
dua kali. Lagi pula belum tentu jalur yang satunya semenarik yang kami lalui
ini. Kami percaya dan menikmati setiap langkah kami, langkah yang belum pasti
kemana kami akan dibawa karena pandangan kami tertutup oleh tebing dan
pepohonan.
Uluran tangan sering kudapat dari rekanku begitupun aku
bergilir menarik rekan dibawahku. Untuk naik, kami harus menerima uluran tangan
dari teman saat tak ada batu atau akar yang bisa menjadi pegangan. Masing-masing dari kami tak dapat melakukannya sendiri. Jalur ini
meski lebih sulit tapi kami tiba lebih awal dan jalur ini langsung membawa kami kepada
menawannya hutan mati. Cuaca yang cerah menambah kepuasan kami akan indahnya
tempat yang dilindungi ini. Kamipun lupa bagaimana rasa lelah untuk mencapai tempat
ini. Saat menginjakkan kaki di hutan mati letih yang kami rasakan seperti lenyap
bersama kabut yang tertiup angin. Tak ada penyesalan dalam
pilihan kami, terimakasih untuk Dion telah memilih dan meyakinkan melalui jalan kiri terjal berbatu ini.
![]() |
| There is no WiFi here, but I promise you we will find a better connection |
Berbicara tentang kehidupan, di Gn. Papandayan kamu bisa
menemukan bunga hidup abadi yaitu Edelweis Jawa atau bahasa latinnya adalah Anaphalis Javanica. Dikatakan bungan
abadi karena tak pernah layu yang akhirnya menjadi simbol cinta abadi sebab untuk
mendapatkannya butuh perjuangan juga bunga ini hanya tumbuh di kawasan dataran
tinggi jadi untuk melihatnya saja penuh resiko. Di Papandayan, bunga ini dapat
kita temui di Pondok Saladah dan Tegal Alun. Namun bagi pendaki pantang untuk
memetik dan mengambil bunga ini karna pada setiap pendakian hanya gambar dan
kenangan lah yang boleh kita ambil. Memang terkadang banyak pendaki laki-laki
yang ingin memberikan bunga ini kepada pasangannya. Namun menurutku daripada kamu
memberikan bunga petik yang belum tentu menjamin ‘keabadian’ cintamu tersebut,
lebih baik kamu ajak aku untuk melihat bunga itu langsung. Jauh lebih bermakna
| Edelweis Jawa (Anaphalis Javanica) |
| Saat bunga kuning rontok, menyisakan kelopak bunga |
Kembali kepada perjalanan kami, setelah dari hutan mati dengan
berjalan sedikit kita akan menemui Pondok Saladah yang terhampar bunga edelweis
yang jumlahnya memang tidak banyak. Hanya di Pondok Saladah ini lah kami
diizinkan untuk mendirikan kemah karena lokasi-lokasi lain merupakan lokasi
konservasi yang sangat dilindungi. Kami membagi tugas, ada yang memasang tenda ada
yang mempersiapkan makan siang. Tara! Wajah perut terisi dan Papandayan siap dijelajahi
kembali. Kami meninggakan barang-barang di kemah hanya membawa beberapa barang
penting dan jas hujan. Kami berkeliling, kami mengamati, kami belajar, kami
berbagi dan kami terkagum.
Aku lupa waktu menunjukkan pukul berapa, yang jelas matahari
menunjukkan senja dan kami kembali ke kemah. Malam panjang, bintang, api
unggun, dan segelas minuman hangat siap menemani kami. Kami beristirahat.
Sekitar pukul 3 pagi kami bangun, kami mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Berbekal dengan senter dan segelas minuman hangat kami menunggu waktu untuk menyambut mentari lalu meninggalkan kemah dan berjalan menuju bukit di
hutan mati. Setibanya, Mentari menepiskan setitik dari cahayanya seakan memberi tanda hey aku akan muncul dari arah sini! Degradasi warna mulai terlihat menembus lapisan-lapisan awan di atas kami. Sibuk melihat ke atas kami baru menyadari ternyata gumpalan awan tersebut pun terbentang di
bawah kaki kami. Bagai lautan, dari hamparan gumpalan putih tersebut memunculkan sebuah perasaan kagum yang tak dapat terdefinisikan oleh kata. Perpaduan rangsangan indra pengelihatan yang kuterima hawa yang dingin namun sinar yang hangat memunculkan perasaan bahagia.
Mentari belum sepenuhnya menunjukkan dirinya. Baru cahaya kecil yang mengintip dari kejauhan. Kami menunggu. Menunggu dengan sabar. Menunggu memang tidak menyenangkan, namun di balik penantian
pasti akan ada jawaban. Hanya butuh kesabaran. Kami duduk memikirkan bagaimana
rasanya menyelami awan. Gumpalan-gumpalan halus tersebut menghipnotis kami hingga
kami tersadar dengan dering Handphone di kantong ku. Ada pesan singkat masuk
“Tadi mama kirim pulsa ke no ini sudah masuk kaah….?” Kukira
ini penipuan dalam pesan singkat, ternyata mama temanku yang mengirim. Saatnya
memberi kabar.
| Intipan Mentari, menggugah nurani |
| Nyaman itu jebakan, perluas saja batasnya |
"Mari Mas.."
"Mangga,
mangga..."
"Dari
mana?"
"Jakarta,
mas?"
"Cilacap"
Awal percakapan
kami saat berpapasan dengan Pendaki lainnya yang juga menuju Tegal Alun. Kala itu kami
sedang beristirahat. Jalur yang kami lalui kali ini lebih panjang, terjal dan
semakin menanjak. Pepohonan pun semakin lebat. Pada akar pohon kami berpegang
erat. Penting untuk mempelajari bagaimana mem-packing segala perlengkapan dalam
tas/ carrier karena kedua tangan dan kaki kami harus ekstra memanggul diri kami
sendiri, dan tas carrier. Jadi segala perlengkapan haruslah mantap tertata di
dalam tas sehingga, selain mempermudah area jangkauan tangan dan kaki,
mem-packing dengan benar akan membuat kita nyaman selama perjalanan.
Kami berempat
hampir setengah perjalanan menuju tegal alun dan bertemu dengan group pendaki
dari Cilacap. Berawal dari sapa, percakapan kami berlanjut. Tiga
group kini menjadi satu. Pendakian kami lanjutkan. Untuk mencapai tegal alun kami mengikuti arah atau tanda yang telah dibuat oleh pendaki lain seperti goresan di pohon atau tali rafia yang diikatkan pada ranting atau dahan pohon sebagai penanda mereka telah membuka jalan. Meski sempat tersasar "Seng penting YAKIN!" kalau kata mas-mas dari Cilacap tersebut. Kalimat tersebut menjadi penyemangat dalam perjalanan kami. Setelah melewati jalanan yang menurun, kami tiba pada tujuan kami yaitu Tegal Alun.
| Track menuju tegal alun dilihat dari atas |
| Hidup mati jaraknya hanya sebatas utasan tali |
Tak banyak kami mengambil gambar. Hanya sebentar kami di Tegal Alun. Kabut mulai turun dan angin mulai berhemus kencang. Hujan pun menerjang. Dengan cepat kami mengenakan jas hujan dan menyelamatkan perlengkapan. Kami kembali diuji.
"Neng logistik masih ada?"
"Wah, tinggal minuman aja nih Mas"
"Ayo sini gabung aja"
Segelas kopi cokelat hangat menemaniku dikala menyelesaikan tulisan ini. Kembali kuintip, ada tunas muda yang tumbuh dalam pot yang kusemai seledri di halaman rumah juga daun bawang yang ku-stek di atas jendela pintu. Aku menemukan dua kehangatan di pagi ini. Kopi dan seledriku.
Dua kehangatan itu mengingatkanku kembali pada hangatnya semangkuk indomie rebus berkuah hujan dan kopi hangat Tegal Alun yang diberikan oleh Pendaki dari Cilacap. Kami tidak diizinkan berkemah di area konservasi ini, indomie yang kami rebus kami nikmati bersama tetesan air dan jas hujan. Bagiku, momen ini tak terbayar oleh apapun. Tidak hanya sampai situ, kami harus segera turun sebelum hujan lebat ini mengamuk ganas. Setelah berunding dengan para kepala regu, kami memutuskan untuk segera menyusuri jalan pulang melalui jalur lain. Jalur yang bagaimana jujur belum bisa terbayang oleh kami, yang jelas bukan jalur kami datang tadi.
Terimakasih kepada semangkuk indomie, kami kembali bertenaga untuk menyusuri jalan pulang. Jika jalur datang kami tadi belok ke kanan, kami mengambil jalan ke kiri. Hanya ada dua wanita dalam group ini. Aku dan adik kami Devi - si mungil yang selalu terbully yang mana tiap tawa dan idenya menjadi poin plus dalam perjalanan ini hal ini tapi tak lepas dari ide nakal dari si pemanggul carrier merah. Devi dan aku diposisikan di tengah diapit antara laki-laki mengingat jalur yang akan kami lalui sepertinya akan curam menurun tajam ke bawah. Dan benar saja, sebelah kanan kami jurang dan jalanan berundak menurun hanya selebar telapak kaki ditambah hujan yang masih mengguyur kami.
| Nyasar ya nyasar....... Seng penting, YAKIN..!! Bersama Pendaki dari Cilacap |
Tak banyak kalimat break pada penyusuran jalan kali ini. Kami harus berjalan cepat untuk menghindari hujan badai, beruntung tetesan air ini tidak semakin besar namun turunan licin membuat kami harus berhati-hati dalam meginjakkan kaki kami. Sesekali leader berteriak "AMAAN?" kepada sweeper di belakang untuk memastikan tak ada yang tertinggal. Sautan tersebut dibalas dengan kalimat yang sama namun leih panjang.
Terpeleset itu sudah biasa dikala kaki kami tak seimbang menopang tas dan tubuh kami menuruni jalan licin yang berundak. Jawabannya, bangkit kembali. Dari depan aku melihat dua lelaki ber-carrier yang dengan sigap membantu langkah gadis berponco biru. Aku sedikit lebih tenang. Ditambah, mengingat tak ada keluhan satupun keluar dari mulut kami.
Langkah semakin ringan, dan cuaca pun sedikit lebih hangat. Jalan terus kami susuri, pisau sekali digoreskan ke batang pohon untuk menandakan belokan yang kami lalui. Berharap dengan itu pendaki lain melihat dan tak tersasar. Voila! Secara ajaib kami tiba di Pondok Saladah
Masih ingat kah connection yang aku janjikan di awal? Kini kamu telah memilikinya sebagian
Salam hangat,
sehangat kopi yang kau teguk pagi ini





4 komentar
Packing yang ngalahin lama nya waktu uas ya kak..
ReplyDeleteayo jalan lagi! :D
DeleteCuma bisa membayangkan papandayan, krn sampai saat ini belum kesampaian kesana...hihi
ReplyDeleteWah, sudah jalan kemana-mana padahal. Harus coba mba Desi, jadwalkan segera Mbaa
Delete