Papandayan 2662 Mdpl

By Grace Ignacia - February 29, 2016


Kepada orang yang sedang patah hati, Papandayan mungkin bisa menjadi salah satu destinasi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Karena pada dasarnya orang yang sedang patah hati itu waib untuk menyibukkan diri dan berlibur ke tempat yang menyenangkan. Karena dengan diam saja di rumah kemungkinan besar kamu hanya akan menambah beban kamu atau mungkin akan lebih sering teringat dengan masa lalu-mu dengan si Dia. Oleh karena itu berpergian dengan model atau tipe yang baru seperti hiking di Papandayan merupakan salah satu pilihan kegiatan yang tepat untuk menyembuhkan luka yang masih membekas di hati meski bagiku perjalanan kali ini bukanlah sepenuhnya untuk itu.

Papandayan merupakan sebuah Gunung dengan ketinggian 2662 Mdpl yang terletak di Garut, Jawa Barat. Akses menuju ke sana tidaklah sulit, berikut cerita bagaimana perjalananku ke Papandayan dengan tiga orang temanku. (Hanya saran. Tinggalkan halaman ini, jika ragu untuk meneruskan)

“There is no WIFI here, but I promise you we will find a better connection”

Perjalanan singkat ini bermula dari rasa penasaranku terhadap tempat ini yang sering kujumpai hanya di media social Instagram. Sempat hanya menjadi wacana 2 kali di tahun 2015 akhirnya perjalanan ini terjadi di awal 2016 bersama tiga sahabat perjalananku Andrew, Devi dan Dion. Cece temanku, membatalkan rencana untuk ikut karena suatu hal. Berbekal dengan perlengkapan pinjam sana sini dan packing yang singkat, kami memulai perjalanan menuju Papandayan dengan angkutan umum menuju Kp. Rambutan lalu menaiki Bus Primajasa jurusan Terminal Garut. Sesekali kutengok handphone ada pesan masuk dan beberapa missed call.

"Udh brangkat ka?"
"Hati2 kalian ya ka :("
"Titip adek2 ya, terutama adek pea gua tuh hahaha"
"Hati2 kalian jaga kesehatan ya terutama lu"
"Mau kemana, emang Grace punya gunung? wkwk laaff you noonggg"

Perjalanan dadakan ini kurang lebih memakan waktu 4 jam, kami tiba di terminal sekitar pukul 02.00 pagi selanjutnya kami harus menaiki angkutan ke arah Cikajang dan turun di Pasar Cisurupan. Setelah itu kita menaiki mobil bak/ pick up untuk menuju ke lokasi pendakian pertama yaitu Camp David.

Setibanya di Camp David, dengan tanpa listrik dan lampu juga dingin yang sudah mulai menusuk, kami beristirahat tidur sejenak di balai milik warung kecil sembari menunggu datangnya cahaya matahari untuk memulai perjalanan kami. Tanpa listrik dan lampu, langit menjadi begitu indah dengan ribuan bintang yang menyapa dan menemani kami. Sekitar pukul 6 pagi kurang kami mulai sarapan dan siap-siap. Dingin yang menusuk sampai ke tulang tidak mematahkan semangat kami untuk melanjutkan perjalanan kami. And the journey starts here..

Pemandangan dari Camp David



Perjalanan mulai berbatu dan menanjak
Sebelum perjalanan, ada seorang sahabat yang menasihati pula untuk selalu tetap positive, jangan memaksakan diri, selalu jaga perlengkapan agar tetap kering dan jangan sampai kelaparan. Ingat di awal kenapa kumenyarankan perjalanan ini kepada orang yang sedang patah hati? Ya, karena saat mendaki aku lupa. Lupa bagaimana perasaan yang sakit. Bagaimana tidak, kita diharuskan untuk berfirkir menggunakan logika dari segi cuaca, perbendaharaan logistik, medan perjalanan, pemilihan jalur dan stamina diriku & teman-teman. Selain itu mataku disibukkan dan dimanjakkan dengan keindahan. Di Papandayan, setiap langkah memiliki spot pemandangan berbeda yang luar biasa.   

Satu dua langkah kami lalui, keringat mulai muncul di permukaan kulit kami. Jalanan yang awalnya datar mulai menanjak dan berbatu. Kalimat "break" mulai terlontar. Mendaki mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih perasa. Pertanyaan kecil seperti 

"cape ga?"
"mau istirahat dulu?"
"berat ga, sini gantian?"
"awas licin kak"
"ayo dikit lagi"

Atau bahkan gurauan kecil yang meledek keluar dari mulut kami mengundang tawa membuat perjalanan ini tidak terasa. Lokasi pertama yang kami temui adalah Kawah Papandayan. Disini kamu akan melihat kawah belerang dengan aroma seperti telur busuk. Dari lokasi ini pun kamu dapat melihat Gunung Cikuray. Langkah kaki kembali kami ukir meninggalkan kawah tersebut meninggalkan awan belerang di belakang, menuju batas selanjutnya.



Kami dihadapkan dengan dua pilihan jalan. Dilema untuk memutuskan dan tak ada orang lain yang dapat diminta saran. Hanya dengan keyakinan kami berpegangan. Kami memilih jalan ke kiri yang berbatu dan terjal. Jalur ini membuat lutut dan wajah kami saling bertemu. Langkah besar dan kekuatan tangan, kami saling berpegangan saling menjaga satu sama lain. Sempat kami ragu dengan apa yang telah kami pilih, ingin kembali namun kami sudah terlalu jauh. Jika kembali melalui jalur ini dengan turunan tajam kami berfikir dua kali. Lagi pula belum tentu jalur yang satunya semenarik yang kami lalui ini. Kami percaya dan menikmati setiap langkah kami, langkah yang belum pasti kemana kami akan dibawa karena pandangan kami tertutup oleh tebing dan pepohonan.

Uluran tangan sering kudapat dari rekanku begitupun aku bergilir menarik rekan dibawahku. Untuk naik, kami harus menerima uluran tangan dari teman saat tak ada batu atau akar yang bisa menjadi pegangan. Masing-masing dari kami tak dapat melakukannya sendiri. Jalur ini meski lebih sulit tapi kami tiba lebih awal dan jalur ini langsung membawa kami kepada menawannya hutan mati. Cuaca yang cerah menambah kepuasan kami akan indahnya tempat yang dilindungi ini. Kamipun lupa bagaimana rasa lelah untuk mencapai tempat ini. Saat menginjakkan kaki di hutan mati letih yang kami rasakan seperti lenyap bersama kabut yang tertiup angin. Tak ada penyesalan dalam pilihan kami, terimakasih untuk Dion telah memilih dan meyakinkan melalui jalan kiri terjal berbatu ini.








There is no WiFi here, but I promise you
we will find a better connection
Hutan mati. Akibat meletusnya Gunung Papandayan mengakibatkan kebakaran dan membuat deretan pohon Cantigi yang biasanya berwarna hijau-merah kini menjadi hitam kelam tak ada kehidupan. Terkadang sesuatu yang tidak berjalan sempurna dalam hidup kita malah membawa kita pada kesempurnaan. Seperti hutan mati ini dimana area deretan pohon Cantigi yang seharusnya merindangi dan menyelimuti permukaan bumi yang menjulang ini, menjadi tempat sarang burung atau sumber daya bagi makhluk hidup lainnya namun akibat kebakaran tersebut menghanguskan fungsi Cantigi. Namun saat kita meihat sisi lain, saat kita merubah sudut pandang kita, kita menemukan manfaat lainnya dibalik becana yang telah menimpa. Sisi menawan Cantigi lainnya dari Hutan Mati. Hutan mati membawa kehidupan. Kehidupan bagi masyarakat sekitar Garut, kehidupan bagi kami berempat dan puluhan pendaki lainnya. Di lubuk terdalam, aku pun menemukan kehidupan.

Berbicara tentang kehidupan, di Gn. Papandayan kamu bisa menemukan bunga hidup abadi yaitu Edelweis Jawa atau bahasa latinnya adalah Anaphalis Javanica. Dikatakan bungan abadi karena tak pernah layu yang akhirnya menjadi simbol cinta abadi sebab untuk mendapatkannya butuh perjuangan juga bunga ini hanya tumbuh di kawasan dataran tinggi jadi untuk melihatnya saja penuh resiko. Di Papandayan, bunga ini dapat kita temui di Pondok Saladah dan Tegal Alun. Namun bagi pendaki pantang untuk memetik dan mengambil bunga ini karna pada setiap pendakian hanya gambar dan kenangan lah yang boleh kita ambil. Memang terkadang banyak pendaki laki-laki yang ingin memberikan bunga ini kepada pasangannya. Namun menurutku daripada kamu memberikan bunga petik yang belum tentu menjamin ‘keabadian’ cintamu tersebut, lebih baik kamu ajak aku untuk melihat bunga itu langsung. Jauh lebih bermakna


Edelweis Jawa (Anaphalis Javanica)
Saat bunga kuning rontok, menyisakan kelopak bunga  


Kembali kepada perjalanan kami, setelah dari hutan mati dengan berjalan sedikit kita akan menemui Pondok Saladah yang terhampar bunga edelweis yang jumlahnya memang tidak banyak. Hanya di Pondok Saladah ini lah kami diizinkan untuk mendirikan kemah karena lokasi-lokasi lain merupakan lokasi konservasi yang sangat dilindungi. Kami membagi tugas, ada yang memasang tenda ada yang mempersiapkan makan siang. Tara! Wajah perut terisi dan Papandayan siap dijelajahi kembali. Kami meninggakan barang-barang di kemah hanya membawa beberapa barang penting dan jas hujan. Kami berkeliling, kami mengamati, kami belajar, kami berbagi dan kami terkagum.  





Aku lupa waktu menunjukkan pukul berapa, yang jelas matahari menunjukkan senja dan kami kembali ke kemah. Malam panjang, bintang, api unggun, dan segelas minuman hangat siap menemani kami. Kami beristirahat.

Sekitar pukul 3 pagi kami bangun, kami mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Berbekal dengan senter dan segelas minuman hangat kami menunggu waktu untuk menyambut mentari lalu meninggalkan kemah dan berjalan menuju bukit di hutan mati. Setibanya, Mentari menepiskan setitik dari cahayanya seakan memberi tanda hey aku akan muncul dari arah sini! Degradasi warna mulai terlihat menembus lapisan-lapisan awan di atas kami. Sibuk melihat ke atas kami baru menyadari ternyata gumpalan awan tersebut pun terbentang di bawah kaki kami. Bagai lautan, dari hamparan gumpalan putih tersebut memunculkan sebuah perasaan kagum yang tak dapat terdefinisikan oleh kata. Perpaduan rangsangan indra pengelihatan yang kuterima hawa yang dingin namun sinar yang hangat memunculkan perasaan bahagia.

Mentari belum sepenuhnya menunjukkan dirinya. Baru cahaya kecil yang mengintip dari kejauhan. Kami menunggu. Menunggu dengan sabar. Menunggu memang tidak menyenangkan, namun di balik penantian pasti akan ada jawaban. Hanya butuh kesabaran. Kami duduk memikirkan bagaimana rasanya menyelami awan. Gumpalan-gumpalan halus tersebut menghipnotis kami hingga kami tersadar dengan dering Handphone di kantong ku. Ada pesan singkat masuk

“Tadi mama kirim pulsa ke no ini sudah masuk kaah….?” Kukira ini penipuan dalam pesan singkat, ternyata mama temanku yang mengirim. Saatnya memberi kabar.



  
Let this be the way we remember us 

Intipan Mentari, menggugah nurani

Nyaman itu jebakan, perluas saja batasnya




Tegal Alun! 

"Mari Mas.."
"Mangga, mangga..."
"Dari mana?"
"Jakarta, mas?"
"Cilacap"

Awal percakapan kami saat berpapasan dengan Pendaki lainnya yang juga menuju Tegal Alun. Kala itu kami sedang beristirahat. Jalur yang kami lalui kali ini lebih panjang, terjal dan semakin menanjak. Pepohonan pun semakin lebat. Pada akar pohon kami berpegang erat. Penting untuk mempelajari bagaimana mem-packing segala perlengkapan dalam tas/ carrier karena kedua tangan dan kaki kami harus ekstra memanggul diri kami sendiri, dan tas carrier. Jadi segala perlengkapan haruslah mantap tertata di dalam tas sehingga, selain mempermudah area jangkauan tangan dan kaki, mem-packing dengan benar akan membuat kita nyaman selama perjalanan.


Kami berempat hampir setengah perjalanan menuju tegal alun dan bertemu dengan group pendaki dari Cilacap. Berawal dari sapa, percakapan kami berlanjut. Tiga group kini menjadi satu. Pendakian kami lanjutkan. Untuk mencapai tegal alun kami mengikuti arah atau tanda yang telah dibuat oleh pendaki lain seperti goresan di pohon atau tali rafia yang diikatkan pada ranting atau dahan pohon sebagai penanda mereka telah membuka jalan. Meski sempat tersasar "Seng penting YAKIN!" kalau kata mas-mas dari Cilacap tersebut. Kalimat tersebut menjadi penyemangat dalam perjalanan kami. Setelah melewati jalanan yang menurun, kami tiba pada tujuan kami yaitu Tegal Alun.


Track menuju tegal alun dilihat dari atas

Hidup mati jaraknya hanya sebatas utasan tali




Tak banyak kami mengambil gambar. Hanya sebentar kami di Tegal Alun. Kabut mulai turun dan angin mulai berhemus kencang. Hujan pun menerjang. Dengan cepat kami mengenakan jas hujan dan menyelamatkan perlengkapan. Kami kembali diuji.

"Neng logistik masih ada?"
"Wah, tinggal minuman aja nih Mas"
"Ayo sini gabung aja"

Segelas kopi cokelat hangat menemaniku dikala menyelesaikan tulisan ini. Kembali kuintip, ada tunas muda yang tumbuh dalam pot yang kusemai seledri di halaman rumah juga daun bawang yang ku-stek di atas jendela pintu. Aku menemukan dua kehangatan di pagi ini. Kopi dan seledriku.

Dua kehangatan itu mengingatkanku kembali pada hangatnya semangkuk indomie rebus berkuah hujan dan kopi hangat Tegal Alun yang diberikan oleh Pendaki dari Cilacap. Kami tidak diizinkan berkemah di area konservasi ini, indomie yang kami rebus kami nikmati bersama tetesan air dan jas hujan. Bagiku, momen ini tak terbayar oleh apapun. Tidak hanya sampai situ, kami harus segera turun sebelum hujan lebat ini mengamuk ganas. Setelah berunding dengan para kepala regu, kami memutuskan untuk segera menyusuri jalan pulang melalui jalur lain. Jalur yang bagaimana jujur belum bisa terbayang oleh kami, yang jelas bukan jalur kami datang tadi.

Terimakasih kepada semangkuk indomie, kami kembali bertenaga untuk menyusuri jalan pulang. Jika jalur datang kami tadi belok ke kanan, kami mengambil jalan ke kiri. Hanya ada dua wanita dalam group ini. Aku dan adik kami Devi - si mungil yang selalu terbully yang mana tiap tawa dan idenya menjadi poin plus dalam perjalanan ini hal ini tapi tak lepas dari ide nakal dari si pemanggul carrier merah. Devi dan aku diposisikan di tengah diapit antara laki-laki mengingat jalur yang akan kami lalui sepertinya akan curam menurun tajam ke bawah. Dan benar saja, sebelah kanan kami jurang dan jalanan berundak menurun hanya selebar telapak kaki ditambah hujan yang masih mengguyur kami. 

Nyasar ya nyasar....... Seng penting, YAKIN..!! Bersama Pendaki dari Cilacap

Tak banyak kalimat break pada penyusuran jalan kali ini. Kami harus berjalan cepat untuk menghindari hujan badai, beruntung tetesan air ini tidak semakin besar namun turunan licin membuat kami harus berhati-hati dalam meginjakkan kaki kami. Sesekali leader berteriak "AMAAN?" kepada sweeper di belakang untuk memastikan tak ada yang tertinggal. Sautan tersebut dibalas dengan kalimat yang sama namun leih panjang.

Terpeleset itu sudah biasa dikala kaki kami tak seimbang menopang tas dan tubuh kami menuruni jalan licin yang berundak. Jawabannya, bangkit kembali. Dari depan aku melihat dua lelaki ber-carrier yang dengan sigap membantu langkah gadis berponco biru. Aku sedikit lebih tenang. Ditambah, mengingat tak ada keluhan satupun keluar dari mulut kami.

Langkah semakin ringan, dan cuaca pun sedikit lebih hangat. Jalan terus kami susuri, pisau sekali digoreskan ke batang pohon untuk menandakan belokan yang kami lalui. Berharap dengan itu pendaki lain melihat dan tak tersasar. Voila! Secara ajaib kami tiba di Pondok Saladah

Masih ingat kah connection yang aku janjikan di awal? Kini kamu telah memilikinya sebagian




Salam hangat,
sehangat kopi yang kau teguk pagi ini


  • Share:

You Might Also Like

4 komentar

  1. Packing yang ngalahin lama nya waktu uas ya kak..

    ReplyDelete
  2. Cuma bisa membayangkan papandayan, krn sampai saat ini belum kesampaian kesana...hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sudah jalan kemana-mana padahal. Harus coba mba Desi, jadwalkan segera Mbaa

      Delete